Berita Vaksin

Berita Vaksin - Vaccine News

Adalah tempat untuk membaca dan mengetahui hal terbaru tentang penelitian dan perkembangan vaksin didunia, berita akan dirangkum dari berbagai sumber ilmiah dan populer yang bisa dipercaya dan mempunyai kredibilitas tinggi.

Halaman ini dikelolah secara ilmiah dan penuh tanggung jawab oleh seorang dokter yang mempunyai latar belakang pendidikan dan pelatihan tentang vaksin dan vaksinasi, sehingga apa yang dipaparkan di halaman ini bisa dipertanggung jawabkan.

Thursday, August 28, 2014

Berita Vaksin - Manfaat Vaksin Varicella bagi Bayi, Anak Balita dan Orang Usia Dewasa juga Usia Lanjut

Manfaat Vaksin Varicella bagi Bayi, Anak Balita dan Orang Usia Dewasa juga Usia Lanjut 

Cacar Air Googlr Free Image

Vaksin Varicella atau vaksin cacar air mulai diperkenalkan dan dipergunakan sejak 15 tahun yang lalu. Sejak saat itu telah terjadi penurunan jumlah kejadian penyakit cacar dan juga jumlah perawatan rumah sakit yang terjadi pada bayi dan anak balita, akibat komplikasi penyakit cacar ini. 

Lalu timbul rasa kuatir para ahli dan pakar penyakit infeksi, apakah penularan penyakit cacar air ini akan bergeser, mulai menulari orang dewasa dan orang tua, yang daya tahan imunitasnya sudah berkurang karena efek usia.  

Dari semua survey dan penelitian yang dilakukan ditemukan bukti dan fakta yang menggembirakan dan melegakan. 
Bahwa dengan vaksinasi cacar ini tidak ditemukan bukti penyakit cacar ini mulai bergeser ke kelompok populasi masyarakat yang berusia lebih tua daripada bayi dan anak balita, demikian diungkapkan oleh hasil kumpulan survei yang dilakukan para ahli penyakit infeksi, .....misalnya : 

Pada tahun 1995 semenjak vaksin varicella (vaksin cacar air) terdaftar dan direkomendasikan pemakaiannya oleh ACIP (The Advisory Committee on Immunization Practices), "timbul kekuatiran dari banyak dokter bahwa imunisasi varicella ini akan menggeser arah penuaran penyakit ini kepada orang usia dewasa dan usia lanjut, dimana penyakit varicella ini akan lebih berat dan serius dibandingkan pada penderita yang berusia muda belia, sehingga kekuatiran ini telah menghambat usaha penganjuran vaksin varicella ini" demikian dituturkan oleh dokter L.J Tan, PhD, Kepala Unit Strategy dari the Immunization Action Coalition di St. Paul, Minnesota, kepada Medscape Medical News. 

Dokter Roger Baxter, MD dan kolega2nya dari the Kaiser Permanente Vaccine Study Center di Oakland, California, melakukan sejumlah 5 buah survey yang mencakup data selama 15 tahun vaksinasi varicella dari semua pasien Kaiser Permanent Northern California (KPNC), untuk meneliti dan menjelaskan kekuatiran tentang penggeseran pola infeksi penyakit varicella dari bayi dan anak yang berusia muda ke orang berusia dewasa dan usia lanjut.
Para peneliti ini mendapatkan data dan informasi vaksinasi varicella dari database KPNC. Mereka juga memperoleh informasi tentang sejarah dan frekuensi penyakit varicella dengan survey telpon dan menggunakan data primer hasil diagnosa penyakit dipusat perawatan dirumah sakit. 
Ternyata angka perawatan akibat penyakit varicella menurun sebanyak 90% sejak tahun 1994 sampai tahun 2009. Penurunan angka perawatan ini terjadi pada semua kelompok usia, ini menjadi bukti nyata bahwa program vaksinasi varicella mempunyai efek positif terhadap orang dewasa dan berusia lanjut, juga berefek positif untuk bayi dan anak balita dan anak berusia belia.   

Semenjak program vaksinasi varicella ini dijalankan, para peneliti mendapatkan kenyataan bahwa terjadi penurunan angka proporsionil anak dan orang usia dewasa yang tidak terlindung oleh vaksinasi, termasuk golongan berusia 15 sampai 19 tahun (terjadi penurunan angka dari 15.6% yang tidak terlindung oleh vaksin menjadi tinggal 7.6 % pada tahun 2009) 

Sejak tahun 1995 hingga tahun 2009, secara keseluruhan angka kejadian penyakit varicella pada pasien berusia 5 hingga 19 tahun telah menurun dari 25.8 menjadi hanya 1.3 per 1000 orang - tahun. Ketika dihitung berdasarkan usia penderita, maka para ahli mendapatkan bahwa terjadi pengurangan 90 % hingga 95 % pada jumlah kejadian penyakit varicella untuk semua golongan umur : 5 sampai usia 9 tahun, 10 sampai usia 14 tahun dan 15 sampai usia 19 tahun. 

Angka perawatan rumah sakit berdasarkan usia juga menurun pada semua golongan usia, dari angka 2.13 per 100.000 orang penderita pada tahun 1995 menjadi hanya 0.25 per 100.000 penderita pada tahun 2009. (penurunan yang mencapai 90 %)  

Pada bulan Juni 2006, ketika ACIP (the Advisory Committee on Immunization Practices) merekomendasikan dosis kedua vaksin varicella, dan anjuran ini di-ikuti oleh KPNC. 
Hasil survey tahun 2009 mencerminkan pengaruh protokol dosis kedua vaksin varicella dan angka kejadian penyakit varicella berkaitan dengan usia penderita yang tetap rendah sepanjang waktu. 
Maka para peneliti berkesimpulan bahwa hasil vaksinasi dua dosis ini adalah konsisten besamaan dengan keuntungan yang diberikan oleh dosis ke 2 vaksin varicella ini.

Dr. Tan juga berpendapat sama, bahwa "Dua dosis vaksin varicella adalah sangat efektif untuk intervensi dan mencegah cacar air ini, bahkan untuk mereka yang sakit sekalipun, bahwa dengan vaksinasi varicella telah berhasil mengurangan derajat keparahan penyakit varicella yang bisa kita lihat dari indikasi angka perawatan rumah sakit yang menurun"

    
Sumber : Pediatrics. Published online June 9, 2014
  



Saturday, April 12, 2014

Berita Vaksin - Vaksin Influenza Baru Quadrivalent

Berita Vaksin - Vaksin Influenza Baru Quadrivalent

Vaksin Influenza Empat Valensi atau Quadrivalent Influenza Vaccine adalah vaksin baru influensa yang berisi 4 jenis antigen virus influenza, yaitu terdiri dari : 
- 2 strain virus influenza serotype A 
- 2 strain virus influenza serotype B 
Sehingga total dalam satu suntikan vaksin influenza Quadrivalent ini mengandung 4 jenis antigen virus influenza. (http://selukbelukvaksin.com/vaksin-influenza-baru-quadrivalent-influnenza-vaccine/)

Berbeda dengan vaksin influenza tri-valent atau ber-valensi tiga yang telah lama kita kenal dan pergunakan selama ini, yaitu terdiri dari :
- 2 strain virus influenza serotype A 
- 1 strain virus influenza serotype B saja. 

Pertanyaannya adalah mengapa vaksin influenza yang baru ini mengandung 4 strain virus influenza, sedangkan yang lama hanya mengandung 3 strain saja ? 

Apakah 3 jenis virus saja mempunyai cakupan yang rendah, sehingga daya proteksi vaksin influenza lama ini kurang ? Sehingga dianggap perlu untuk menambah lagi satu strain virus influenza untuk menutupi celah yang ada ini ? 


Apa manfaat vaksin influenza Quadivalent ini ? 
Vaksin influenza musiman yang saat ini beredar adalah jenis vaksin influenza trivalent (tiga valensi), yang terdiri 2 strain virus influenza A dan satu strain virus influenza B. 
Sedangkan dari pengalaman dan pengamatan virus influenza surveillance network, kita ketahui ada 2 jenis strain virus influenza B yang beredar pada musim yang sama. 

Hanya karena potensi dan kemungkinan menyebabkan penyakit influenza yang lebih kecil, sehingga strain virus influenza B yang satu ini tidak dimasukkan dalam kandungan vaksin influenza trivalent ini.  

Namun dari pengalaman juga hasil pengamatan dan evaluasi data epidemiology dan virulensi (keganasan) virus influenza B yang lain ini, ternyata mempunyai potensi yang cukup tinggi untuk menyebabkan orang yang terpapar dengan jenis virus ini menjadi sakit dengan segala konsekuensinya. 

Sehingga akhirnya para ilmuwan bersepakat untuk menambahkan jenis strain virus influenza B, kedalam kandungan vaksin influenza trivalent menjadi vaksin influenza quadrivalent, dengan demikian akan menambah cakupan dan memperluas daya proteksi vaksin quadrivalent terhadap semua jenis serotype virus influenza yang beredar pada setiap musim penyakit influenza, baik dibelahan bumi sebelah utara (northern hemisphere) juga dibelahan bumi selatan (southern hemisphere).   

Seperti halnya virus influenza strain A yang terbagi 2 jenis serotype, dan masing masing serotype mempunyai jenis antigen yang berbeda, konsekuensinya diperlukan 2 jenis antibody yang berbeda untuk menetralisir antigen yang berbeda ini. 

Demikian juga halnya dengan virus influenza strain B. Mereka terdiri dari strain B/Yamagata dan strain B/Victoria. Kedua jenis strain B ini berbeda satu dengan yang lain, sehingga diperlukan zat antibody yang berbeda untuk menetralisir mereka. Dan kedua jenis straini virus B ini juga beredar diseluruh bumi secara bersamaan pada waktu yang sama. 

Dan mereka mempunyai potensi untuk menimbulkan penyakit dan mengakibatkan terjadinya epidemi seperti strain virus serotype A. 
(lihat cara memberi nama strain virus influenza di  http://selukbelukvaksin.com/vaksin-influenza-dan-seluk-beluknya/)

Sampai tahun 2014, vaksin influenza musiman hanya mengandung 1 strain virus influenza serotype B saja. Namun dengan adanya vaksin influenza quadrivalent, maka sekarang cakupan antigen menjadi 2 strain serotype A dan 2 strain serotype B. Sehingga dengan demikian cakupan vaksin ini menjadi luas dan daya proteksinya menjadi lebih baik lagi daripada vaksin influenza tri-valent yang kita kenal saat ini. 

Jenis vaksin influenza quadrivalent ini baru mulai di-izinkan beredar oleh US FDA pada awal tahun 2014 ini, sedangkan untuk negara lain seperti Indonesia, masih diperlukan waktu beberapa lama lagi sebelum memperoleh persetujuan dan izin beredar dari Badan POM RI kita. 
Nanti posisi vaksin influenza tri-valent akan diambil alih oleh vaksin influenza quadrivalent yang mempunyai cakupan luas dan efikasi yang lebih baik. 

Vaksin influenza di Indonesia telah disediakan oleh beberapa perusahaan pembuat vaksin dunia, termasuk juga PT Bio Farma Indonesia, yang mempunyai kapasitas memproduksi vaksin influenza untuk keperluan masyarakat Indonesia dan untuk export.   

  

Komposisi Vaksin Influenza 2014-2015  

Antigen virus yang direkomendasi oleh WHO untuk tahun 2014 - 2015 untuk musim influenza Northern Hemispher adalah sama dengan antigen virus untuk musim influenza Northern Hemisphere tahun 2013 - 2014 dan musim influenza Southern Hemisphere tahun 2014. 

(http://selukbelukvaksin.com/komposisi-vaksin-influenza-northern-hemisphere-untuk-vaksinasi-influenza-tahun-2013-2014/)

Pertemuan Komposisi Vaksin WHO untuk musim influenza dimulai pada 17 - 19 February 2014, di markas besar WHO di Geneva. Switzerland. Dari pertemuan ini dikeluarkan rekomendasi kompisisi vaksin trivalent yang dipakai untuk membuat vaksin musim influenza Northern Hemisphere 2014-2015 sebagai berikut:      
  • an A/California/7/2009 (H1N1)pdm09-like virus;
  • an A/Texas/50/2012 (H3N2)-like virus;
  • a B/Massachusetts/2/2012-like virus.
(lihat cara menentukan antigent virus influenza untuk membuat vaksin influenza di  http://selukbelukvaksin.com/vaksin-influenza-dan-seluk-beluknya/)

Source : 
www.selukbelukvaksin.com
http://www.cdc.gov/flu/about/season/vaccine-selection.htm






Vaccine Saves Lives !

 

 

Thursday, February 20, 2014

Berita Vaksin - Vaksin Rotavirus Berefek Rendah Terjadinya Intususepsi Usus

Rotavirus Vaccines Carry Low Risk for Intussusception

(Vaksin Rotavirus Berefek Rendah Terjadinya Intususepsi Usus)

Neil Osterweil
January 14, 2014

Sejak terjadi kasus intususepsi usus yang berkaitan dengan pemakaian vaksin Rotavirus generasi pertama, yaitu vaksin RotaShield, maka vaksin tersebut telah ditarik dari peredaran dan digantikan dengan vaksin rotavirus generasi baru yang lebih baik dan lebih aman untuk dipergunakan ( http://selukbelukvaksin.com/vaksin-rotavirus-jenis-vaksin-rotavirus-dan-jadwal-imunisasi/)

Saat ini beredar 2 jenis vaksin rotavirus generasi baru, dari pembuat vaksin terkenal dunia, yaitu :
Dalam pemakaian selama ini di klinik, memang  jumlah kejadian intususepsi usus sudah jauh berkurang dan cukup aman untuk dipergunakan, namun segi keamanan vaksin, termasuk efek samping akibat pemakaian vaksin, atau KIPI, termasuk kejadian  intususepsi usus, tetap akan dipantau dan dikuti dengan seksama dan teliti.

Seperti judul artikel diatas, dikatakan bahwa vaksin Rotavirus hanya mempunyai resiko yang rendah terhadap kejadian intususepsi usus.

Intususepsi usus, adalah penyebab umum gangguan obstruksi atau penyumbatan usus bayi dan anak kecil, terjadi sedikit peningkatan kasus intususepsi usus yang berkaitan dengan pemakaian vaksin rotavirus yang beredar saat ini, demikian data yang dikumpulkan oleh 2 buah penelitian surveilanse yang berskala besar.

Dalam hasil penelitian yang diterbitkan online pada 14 January 2014 di majalah kedokteran New England Journal of Medicine, mengungkapkan bahwa, secara keseluruhan resiko terjadi intususepsi akibat pemakaian vaksin rotavirus ini adalah rendah. 

Namun memang berbeda resiko kejadian intususepsi antara vaksin pentavalent (RV5; RotaTeq, Merck) dengan vaksin monovalent (RV1; Rotarix, GlaxoSmithKline).

Para peneliti dari kedua jenis penelitian ini menekankan, bahwa keseluruhan resiko intususeppsi yang relative kecil ini, yaitu sekitar 1 hingga 5 kejadian intususepsi usus berbanding dengan 100.000 bayi yang divaksinasi, seharusnya lebih besar manfaat vaksin ini karena bisa mencegah penyakit serius saluran pencernaan, mengurangi dan menghindarkan perawatan rumah sakit, juga mencegah kematian akibat infeksi rotavirus ini.


Rancangan Penelitian - Penelitian Pertama

Dalam salah satu penelitian yang dilakukan oleh Dr. W. Katherine Yih, PhD, MPH, dan koleganya, dari Harvard Medical School and Harvard Pilgrim Health di Boston, Massachusetts, dengan meneliti data dari US FDA Post-Licensure Rapid Immunization Safety program, yang mencakup informasi sejumlah 1,277,556 dosis vaksin pentavalent dan 103,098 dosis vaksin monovalent yang diberikan ke bayi berusia 5 hingga 36.9 minggu di Amerika.

Terdapat sebanyak 267 kasus intususepsi yang berkaitan positif dengan pemakaian vaksin rotavirus.

Dari data tersebut, dilakukan 2 jenis analisa. Analisa pertama, mereka mengukur resiko terjadinya intususepsi usus berdasarkan waktu, yaitu waktu dari hari pertama hingga 7 hari berikut atau dari hari pertama hingga hari ke 21, setelah bayi mendapatkan vaksinasi rotavirus. Yang dibandingkan dengan kelompok kontrol pada hari 22 hingga 42 hari setelah mendapatkan vaksinasi.

Analisa kedua, mereka menggunakan kelompok kohort yang mendapatkan vaksinasi dibandingkan dengan kohort yang tidak mendapatkan vaksinasi.

Kesimpulan analisa
  • Analisa jenis pertama berdasarkan waktu terpapar dengan vaksin rotavirus, maka kesimpulannya adalah resiko kejadian intususepsi usus  adalah lebih besar pada pemberian dosis pertama vaksin pentavalent, pada saat 7 hari (attributable risk, 1.1; 95% confidence interval [CI], 0.3 - 2.7), dan 21 hari setelah mendapatkan vaksinasi dibandingkan dengan kelompok kontrol (attributable risk, 1.5; 95% CI, 0.2 - 3.2).
Tidak ada peningkatan resiko intususepsi untuk pemberian dosis ke 2 dan dosis ke 3 vaksin rotavirus pentavalent ini. (catatan:vaksin rotavirus penvalent diberikan 3 dosis lengkap)
  • Demikian juga kesimpulan yang sama didapatkan dari analisa kedua yang berdasarkan kelompok kohort, terlihat peningkatan resiko yang nyata untuk pemaparan vaksin rotavirus dosis pertama, hingga hari ke 21. Tidak terjadi peningkatan yang berarti untuk pemberian dosis ke2 dan dosis ke 3 selanjutnya (attributable risk, 1.2; 95% CI, 0.2 - 3.2) .

Rancangan Penelitian - Penelitian Kedua

Dalam penelitian lain yang terpisah, dilakukan oleh Eric S, Weintraub, MPH, dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Atlanta, Georgia, mereka meneliti data dari the CDC's Vaccine Safety Datalink surveillance program. 

Mereka mengevaluasi data 207,955 anak yang telah mendapatkan vaksinasi rotavirus jenis monovalent ( 115,908 dosis pertama dan 92,047 dosis kedua), dan membandingkan jumlah kasus intususepsi yang terjadi pada 7 hari pertama setelah diberikan vaksinasi dengan data epidemiologi yang ada tentang kejadian ini. (catatan: vaksin rotavirus monovalent diberikan 2 dosis lengkap)

Mereka mendapatkan 6 kasus intususepsi usus yang terjadi dalam waktu 7 hari pertama setelah bayi diberikan vaksin monovalent rotavirus, bila ini dibandingkan dengan data epidemiologi yang ada, maka resiko terjadinya intususepsi usus untuk vaksin menjadi 8.4

Mereka juga melakukan evaluasi dan analisa terhadap hasil temuan penelitian pertama diatas tentang resiko intususepsi usus setelah pemberian vaksin pentavalent rotavirus. 

Mereka meneliti hampir sebanayak 1.3 juta dosis vaksin pentavalent yang telah diberikan, dan juga tidak menemukan adanya peningkatan bermakna kejadian intususepsi usus pada jenis vaksin pentavalent rotavirus ini.

Catatan: Vaksin monovalent rotavirus ini baru mulai didaftar dan dipergunakan di Amerika 2 tahun kemudian setelah penggunaan vaksin pentavalent rotavirus di Amerika, sehingga jumlah dosis yang diteliti dalam kedua penelitian diatas berbeda, dan jumlah dosis monovalent rotavirus adalah lebih sedikit daripada jenis vaksin pentavalent rotavirus.

Kesimpulan :
  • Lebih dari 90% penyebab intususepsi usus tidak diketahui penyebabnya yang jelas. Ada banyak bukti bahwa penyebab tersering adalah karena kelainan bentuk anatomi usus yang sedemikian rupa (misalnya polip, perdarahan, kelainan pada usus buntu, dll) sehingga memudahkan terjadinya intususepsi usus (http://selukbelukvaksin.com/vaksin-rotavirus-dan-kipi-intususepsi-usus/)
  • Sampai saat ini tetap diyakini bahwa vaksin rotavirus generasi baru, baik yang jenis monovalent juga jenis yang pentavalent, adalah vaksin yang efektif, cukup aman untuk dipergunakan bagi bayi yang memerlukan vaksin tersebut.
  • Dari data surveilanse pasca pemasaran kedua jenis vaksin rotavirus ini, memang ada ditemukan kejadian intususepsi usus yang berhubungan dengan pemberian vaksin rotavirus generasi baru ini. Dalam penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa, secara keseluruhan jumlah kasus intususepsi usus adalah sekitar 1 sampai 5 kasus per 100.000 bayi.
  • Dengan pemberian vaksin rotavirus, maka jumlah kasus sakit dan infeksi serius akibat infeksi rotavirus bisa ditekan, juga mengurangi jumlah kunjungan dokter dan perawatan dirumah sakit, mengurangi secara bermakna angka kesakitan dan angka kematian bayi balita, akibat infeksi dan penyakit rotavirus ini
  • Dari penelitian diatas, didapatkan data bahwa kejadian intususepsi usus lebih sering terjadi pada hari pertama hingga hari ke 7, juga hari pertama hingga hari ke 21, setelah pemberian vaksin rotavirus pentavalent dosis pertama. Sedangkan selanjutnya untuk dosis kedua dan dosis ketiga, tidak ditemukan tanda peningkatan kejadian intususepsi usus yang bermakna. Demikian juga untuk vaksin rotavirus monovalent ditemukan hal yang serupa.


Vaksin Saves Lives !

Sunday, January 19, 2014

Berita Vaksin - Vaksinasi BCG Mengurangi Kemungkinan Infeksi Salauran Pernafasan Bawah

Berita Vaksin - Vaksinasi BCG Mengurangi Kemungkinan Infeksi Salauran Pernafasan Bawah

Infeksi Saluran Pernafasan Bagian Bawah adalah jenis penyakit infeksi yang sering mengenai anak balita dan bayi, terutama pada saat perubahan musim atau panca roba, maka angka penderita penyakit anak dan bayi akan meningkat.

Baru baru ini ada berita yang dilansir oleh Kantor Berita Reuter, New York pada 10 January 2014 yang baru lalu, tetang efek atau akibat pemberian vaksinasi BCG untuk mencegah infeksi kuman TBC pada bayi, ternyata mempunyai efek mengurangi resiko infeksi akut saluran pernafasan bagian bawah ketimbang bayi dan anak yang tidak pernah divaksinasi dengan vaksin BCG. Bahkan daya proteksi ini akan semakin meningkat jika anak atau bayi tesebut juga telah diberikan imunisasi dengan vaksin DTP sebelumnya. Demikian temuan suatu penelitian uji klinik terbaru.   

Jumlah dosis vaksin DTP yang pernah diterima oleh seorang bayi atau anak tidak mempengaruhi hasil pengamatan proteksi yang ditimbulkan oleh vaksin BCG, tetapi urutan pemberian vaksin DTP atau BCG, jenis mana yang diberikan terlebih dahulu, yang akan mempengaruhi efek proteksi vaksin BCG terhadap pencegahan infeksi saluran pernafasan bagian bawah ini. Demikian dilaporkan oleh peneliti dalam majalah kedokteran Pediatric, yang diterbitkan secara online pada 30 December 2013.

"Terlepas bayi atau anak tersebut bertempat tinggal dimana saja, hasil penelitian ini menekankan nilai dari imunisasi anak dengan mempergunakan vaksin standard dan  pentingnya mengikuti jadwal vaksinasi yang telah ditentukan untuk imunisasi bayi dan anak" kata peneliti utama Dr. Maria-Graciela Hollm-Delgado dari the Johns Hopkins University, Bloomberg School of Public Health, dalam komunikasi email kepada kantor berita Reuters Health.

"Vaksinasi BCG tampaknya mempunyai efek kesehatan yang tidak langsung dan vaksinasi BCG untuk anak anak adalah sangat penting untuk mereka yang hidup dinegara yang sedang berkembang, dimana prevalensi penyakit TBC cukup tinggi dan resiko anak tertular infeksi saluran pernafasan bagian bawah adalah besar" lanjut Dr. Maria -Graciela Hollm-Delgado

Untuk meneliti apakah vaksinasi BCG berkaitan dengan resiko infeksi saluran pernafasan bagian bawah diantara anak berusia dibawah lima tahun (balita), maka Dr. Hollm-Delgado dan koleganya mempergunakan Marco International Demographic dan Survey Kesehatan dan survey dari United Nations Children's Fund Multiple Indicator Cluster Survey, untuk meneliti kohort primer sebanyak 58,021 anak yang tersebar di 19 negara, data dari tahun 2005 sampai 2010. Mereka juga meneliti kohort sekunder sebanyak 93,301 anak, yang tersebar di 18 negara, data sejak tahun 2000 sampai 2007.

Petugas wawancara terlatih, bertugas mengumpulkan informasi sewaktu melakukan kunjungan rumah dengan mempergunakan daftar pertanyaan yang seragam, juga kartu penilaian kesehatan vaksinasi, dan indikator ukuran kesehatan.

Para peneliti menemukan bahwa vaksinasi BCG mempunyai efek mengurangi hingga sebanyak 17% - 37% resiko terkena infeksi saluran pernafasan bagian bawah pada kedua kelompok kohort anak tadi. Dan satu satunya vaksin atau suplement vitamain yang mempunyai efek pengaruh terhadap vaksin BCG adalah hanya vaksin DTP saja (p<0.001).  

Seperti yang disebutkan diatas tadi, bahwa urutan vaksinasi BCG dan vaksinasi DTP ini sangat menentukan efek proteksi ini ; vaksinasi BCG sebelum vaksinasi DTP atau kebalikannya. Jadi bukan jumlah dosis vaksin DTP yang telah diberikan kepada bayi atau anak tersebut.  

Dr. Hollm-Delgado mengatakan bahwa terjadinya peningkatan reaktifitas terhadap antigen tuberkulin dan vaksin DTP telah diperhatikan semenjak anak diberikan vaksinasi BCG, tetapi interaksi antara vaksin BCG dan DTP terhadap resiko infeksi Saluran Pernafasan bagian Bawah ini yang belum diketahui dengan jelas meskipun telah dilakukan penelitian secara luas. 

"Pada penelitian yang lalu di Brasil dan Guinea Bissau berhasil mengetahui hubungan antara riwayat vaksinasi BCG anak dengan resiko kesakitan dan kematian akibat infeksi saluran pernafasan bagian bawah, tetapi tidak jelas apakah hasil ini bisa diterapkan negara lain, terutama karena reaksi terhadap vaksinasi BCG yang bermacam ragam diantara penduduk lokal dari waktu ke waktu dan juga bervariasi diantara anak yang terpapar dengan kuman mycobacterium alami dan jenis kuman micobacterium yang dipergunakan dalam vaksin" kata Dr. Hollm-Delgado.


Kesimpulan:


  • Telah ditemukan adanya efek "potensiasi" antara pemberian vaksin BCG bersama vaksin DTP yang dapat menekan angka kejadian infeksi dan resiko penyakit Saluran Pernafasan Bagian Bawah, diantara bayi dan anak yang telah diberikan kedua jenis vaksinasi tersebut 

  • Ternyata bukan jumlah dosis vaksin DTP yang pernah diberikan akan berpengaruh dan mengurangi resiko terjadi infeksi Saluran Pernafasan Bagian Bawah, melainkan urutan pemberian vaksin BCG dan DTP yang akan menentukan hal ini 

  • Efek "potensiasi" ini masih perlu dibuktikan di negara lain dengan populasi lokal yang berbeda jenis etnik, suku dan faktor genetiknya   



 

Vaccine Saves Lives !




Wednesday, December 4, 2013

Berita Vaksin - Data Imunisasi Bayi dan Anak Se Dunia

Berita Vaksin - Data Imunisasi Bayi dan Anak Se Dunia

Semenjak vaksin ditemukan oleh para ilmuwan kedokteran, maka cerita dan publikasi sudah banyak tentang manfaat dan kegunaan vaksin untuk kesehatan umat manusia, bahwa dengan pemberian vaksinasi yang tepat, akan menghindarkan penyakit infesi yang bisa dicegah dengan vaksinasi yang tepat, mengurangi angka kesakitan bayi dan anak, bahkan mengurangi angka kecacatan fisik dan menurunkan angka kematian bayi dan anak diseluruh dunia.

Meskipun sudah begitu banyak fakta dan bukti, yang disodorkan dengan gamblang dan nyata, dengan angka yang berbicara tegas, tetapi masih saja banyak orang bahkan orang tua yang bersikap curiga, berprasangka buruk terhadap tujuan dan manfaat vaksin dan vaksinasi bagi bayi, anak dan keluarga mereka.
Akibatnya banyak dari mereka yang menolak untuk diberikan vaksinasi bagi bayi anak dan anggota keluarga mereka.
Sehingga dari waktu ke waktu, kita masih sering mendengar tentang adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit infeksi anak yang terjadi didaerah atau negara tertentu, misalnya penyakit polio yang merebak didesa Cidahu, Sukabumi tahun 2005 yang lalu, lalu penyakit difteri yang masih meraja lela di daerah Jawa Timur sejak akhir tahun 2011, kemudian juga penyakit campak dan penyakit infeksi bayi yang lain, yang seharusnya penyakit penyakit infeksi ini sudah hilang dari muka bumi ini sekian puluh tahun yang lalu, bila saja kita semua patuh dan mau memberikan vaksin dan vaksinasi bagi bayi dan anak kita

Untuk memperlihatkan keadaan nyata tentang vaksin dan hasil vaksinasi yang telah dilakukan diseluruh dunia, maka kami ingin mengajukan beberapa data vaksinasi dan hasilnya dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO dan juga dari UNICEF .  


Peningkatan Jumlah Vaksinasi Baru dan Vaksinasi yang Kurang Diminati :

Vaksin Hepatitis B 
Pada akhir tahun 2012 telah menjadi program vaksinasi nasional di 181 negara diseluruh dunia.
Angka cakupan global untuk vaksinasi hepatitis B lengkap 3 dosis telah mencapai 79%, dengan rincian sebagai berikut : Di daerah Pacific Barat dan Amerika angka cakupan mencapai 91%, dan Asia Tenggara mencapai 72% ditahun 2012 dibandingkan hanya 56% pada tahun 2011.  


Vaksin Haemophilus Influenza Type B (Hib Vaksin)
Vaksin ini mulai diperkenalkan pada akhir tahu 2011 di 184 negara (termasuk bagian negara Belarus, India, Maldive dan Nigeria) yang meningkat dari hanya 177 negara pada tahun 2011.  

Angka cakupan imunisasi global vaksin Hib sekitar 45% pada tahun 2012, yang mencapai 91% di Amerika, tetapi hanya 11% dan 14% saja di daerah Asia Tenggara dan daerah Pacific Barat.



Vaksin Rubella (Vaksin Campak Jerman) 
 Telah dijadikan program vaksinasi nasional di 134 negara sejak akhir tahun 2012, yang meningkat dari hanya 85 negara saja pada tahun 1996.
Telah terjadi perkembangan yang menggembirakan, dengan angka pencapaian 99.99% terhadap eliminasi penyakit rubella dan CRS (Congenital Rubella Syndrome) di Amerika, antara tahun 1998 dan 2012.   



Vaksin Gondongan (Mumps Vaccine) 
Vaksin ini dimasukkan dalam program vaksinasi nasional di 120 negara pada akhir tahun 2012.

Vaksin Yellow Fever (Vaksin Demam Kuning)  
Vaksin ini juga dibuat menjadi program vaksinasi nasional di 36 negara dan daerah endemik potensial di benua Agrika dan negara negara Amerika Latin.


Maternal and Neonatal Tetanus (MNT) atau
Tetanus Post Partum dan Tetanus Neonatorum
Sebanyak 103 negara telah menyediakan vaksin Tetanus Toksoid (vaksin TT) untuk mencegah kejadian Tetanus Post Partum dan Tetanus Neonatorum. 
Diberikan paling sedikit 2 dosis vaksin TT atau vaksin dT dengan cakupan angka vaksinasi yang 81% pada tahun 2012.
Hingga tahun 2012, masalah Tetanus Post Partum dan Tetanus Neonatorum (MNT) masih menjadi  masalah kesehatan masyarakat di 30 negara di Afrika dan Asia.


Vaksin Polio
Cakupan vaksinasi polio lengkap 3 dosis didunia adalah sebesar 84% pada tahun 2012.
Jumlah angka kesakitan penyakit polio tahun 2013 adalah sebanyak 293 kasus (dengan 223 kasus karena infeksi virus polio liar = wild polio virus)
Perkiraan kasus polio seluruh dunia pada tahun 1988 adalah 350.000 kasus. 

Jumlah negara endemik polio pada tahun 2013 ada 3, yaitu Nigeria, Afganistan dan Pakistan
Dari negara endemik tesebut, sering terjadi penyebaran virus polio liar ke negara atau daerah yang telah dinyatakan bebas penyakit polio dan bebas virus polio. (http://selukbelukvaksin.com/?p=1732)


Vaksin Campak (Measles Vaccine)
Cakupan angka vaksinasi campak dosis pertama pada anak yang berulang tahun ke 2, pada  tahun 2012 adalah sebesar 84%
Jumlah negara yang memasukkan pemberian dosis ke 2 vaksin campak dalam program vaksinasi nasional adalah sebanyak 146 negara (75% dari 194 negara)
Perkiraan jumlah angka kematian bayi dan anak karena penyakit campak adalah 157.000 jiwa pada tahun 2011


Vaksin Baru

Beberapa tahun terkahir ini, telah diperkenalkan jenis vaksin baru kepada masyarakat, antara lain, vaksin pneumokokus untuk mencegah penyakit infeksi paru, vaksin Human Papilloma Virus (vaksin HPV) untuk mencegah kanker daerah leher rahim, juga vaksin rotavirus, untuk menghindarkan bayi kita dari infeksi rotavirus penyebab diare hebat.

Berikut ini adalah paparan tentang kapan vaksin ini diperkenalkan dan sudah berapa negara didunia yang mempergunakan vaksin ini dalam program vaksinasi nasionla negara tersebut


Vaksin Pneumokokal (Pneumococcal Conjugate Vaccines - PCV) 
Tahun 2012 vaksin ini telah dipergunakan di 88 negara, termasuk Republik Demokratik Congo dan Kazakhstan, telah meningkat dari 73 negara pada tahun 2011.


Vaksin Rotavirus
Pada akhir tahn 2012, vaksin ini telah dipergunakan di 41 negara, termasuk negara Zimbabwe


Vaksin Human Papilloma Virus (HPV Vaccine)
Pada akhir tahun 2012, sebanyak 42 negara didunia telah mempergunakan vaksin HPV ini untuk mencegah angka kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim pada wanita dan remaja putri mereka.

Untuk ketiga vaksin baru tersebut, telah bisa diperoleh di Indonesia dengan mudah. 


Anak anak yang tidak terlindungi
Kita jangan bergembira dulu hanya dengan melihat pencapaian diatas, karena masih banyak bayi dan anak yang hidup dinegara atau didaerah yang tidak terjangkau oleh vaksin dan usaha vaksinasi.

Hal ini mungkin karena letak geografis, kemiskinan, tapi lebih banyak karena adanya konflik senjata karena perbedaan keyakinan, karena masalah etnik dan suku, sehingga usaha cakupan vaksin dan vaksinasi belum bisa menjangkau bayi dan anak anak ini.

Misalnya saja, bayi dan anak anak dibawah usia satu tahun yang tidak mendapatkan imunisasi DTP3 vaksin ada sebanyak 22.6 juta jiwa pada tahun 2012 dibandingkan 22.3 jiwa pada tahun 2011.

Lebih dari 7% bayi dan anak anak ini hidup di 10 negara, yaitu : negara Republik Demokratik Congo, Ethiopia, India, Indonesia, Iraq, Nigeria, Pakistan, Philipina, Uganda dan Afrika Selatan.


Berapa angka kematian bayi dan anak karena penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan vaksinasi ?
Data WHO memperkirakan sebanyak 1.5 juta jiwa setahun, dengan rincian sebagai berikut:

Kematian karena Hib 199.000 jiwa
Kematian karena Pertusis 195.000 jiwa
Kematian karena Campak 118.000 jiwa
Kematian karena Tetanus Neonatorum 59.000 jiwa
Kematian karena tetanus (non neonatorum) 2.000 jiwa 
Kematian karena penyakit Pneumokokus 476.000 jiwa
Kematian karena Rotavirus 453.000 jiwa


Perkiraan semua kematian bayi dan anak berusia < 5 tahun (0 - 59 bulan) di tahun 2008 adalah sebanyak 8.8 juta jiwa. Hampir 17% dari semua kematian ini sebenarnya bisa dicegah dengan pemberian vaksinasi 

Perkiraan semua kematian anak berusia 1 - 59 bulan adalah sebanyak 5.2 juta jiwa. Sekitar 29% kematian ini bisa dicegah dengan vaksinasi 

Jadi kita telah melihat apa yang telah diberikan oleh usaha vaksin dan vaksinasi dan kita menyadari bahwa usaha preventif ini belum maksimal, karena dibalik cerita sukses vaksin dan usaha vaksinasi, sebaliknya kita juga selalu diingatkan masih adanya bayi dan anak  anak diseluruh dunia, yang setiap saat kelangsungan hidup mereka terancam oleh berbagai macam penyakit infeksi.

Salah satu usaha yang paling jitu, bermanfaat dan efisien adalah dengan memberikan vaksin dan vaksinasi kepada semua bayi dan anak diseluruh dunia, dengan meningkatkan angka cakupan vaksinasi, maka akan menjamin terjadinya yang disebut HERD IMMUNITY atau Kekebalan Kelompok, sehingga akan mencegah terjadinya penularan penyakit infeksi yang bisa kita cegah dan hindarkan dengan vaksinasi.
Adalah lebih baik, jika kita berhasil menghilangkan / mengeliminasi penyakit infeksi tersebut dari muka bumi ini seperti misalnya penyakit cacar air variola. 


Kesimpulan:

  • Cakupan Imunisasi Global apada tahun 2012 telah berhasil mencegah sekitar 2 juta hingga 3 juta kematian setiap tahun dari semua kelompok usia bayi dan anak, akibat menderita penyakit difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan) dan measles atau penyakit campak.

  • Pada tahun 2012, diperkirakan sekitar 83% (111 juta) bayi disekuruh dunia telah mendapatkan perlindungan dengan 3 dosis vaksin difteri, tetanus dan pertusis (DTP3)

  • 3 daerah regional - yaitu Amerika, Eropa dan Pacific Barat mencapai cakupan vaksinasi DTP3 hingga 90%. Cakupan vaksinasi DTP3 di region Pacific Barat bahkan mencapai 97%.  

  • Jumlah negara yang angka cakupan vaksinasi DTP3 mencapai 80% atau lebih, pada tahun 2012 : ada 165 negara, dibandingkan 164 negara pada tahun 2011.
  • Sedangkan jumlah negara yang angka cakupan imunisasi DTP3 mencapai 90% atau lebih terdiri 131 negara pada tahun 2012, dibandingkan 128 negara pada tahun 2011.


Vaccine Saves Lives !


Source:
For the coverage estimates and estimation of number
of children vaccinated or not
vaccinated: WHO/UNICEF coverage estimates 2012 revisi
on, July 2013, available from:
http://apps.who.int/immunization_monitoring/globals
ummary/timeseries/tswucoverage
bcg.htm




 
 




 
.
 

Friday, November 1, 2013

Berita Vaksin - Hubungan Demam Kejang Dengan Usia Saat Imunisasi Vaksin Campak / Measles

Berita Vaksin - Hubungan Kejang Demam Dengan Usia Saat Imunisasi Vaksin Campak / Measles

Bayi Demam Kejang - Source www.sundaytimes.lk
Salah satu kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) setelah bayi kita diberikan imunisasi vaksin yang mengandung komponen vaksin measles yaitu terjadinya demam dan kejang, meskipun kejadian ini tidak banyak dan tidak selalu terjadi.
Selama ini kita tidak tahu apa sebabnya atau apakah ada hubungan sebab akibat antara KIPI demam kejang dengan vaksin yang mengandung komponen vaksin campak atau measles ini, namun sudah banyak ilmuwan yang manarik kesimpulan bahwa kejadian ini memang mempunyai huubungan sebab akibat yang positif.

Dalam penelitian yang lebih baru, mengungkapkan fakta bahwa bayi berusia 12 - 15 bulan, sesuai anjuran dan rekomendasi jadwal dari US CDC, yang menerima dosis pertama vaksin yang mengandung komponen vaksin campak, akan mempunyai resiko lebih kecil untuk mengalami demam kejang (febrile seizure) pasca vaksinasi jika dibandingkan dengan kelompok bayi yang baru mendapatkan vaksinasi yang mengandung komponen vaksin campak ini telah berusia 16 - 23 bulan. 

Dalam penelitian sebelumnya disimpulkan bahwa vaksin yang mengandung komponen vaksin campak akan berkaitan dengan terjadinya kejang yang disebabkan oleh demam yang timbul akibat vaksinasi, ini yang disebut demam kejang atau febrile seizure, ini seringkali terjadi 1 atau 2 minggu setelah vaksinasi.

Sebabnya tidak diketahui, hanya saja ilmuwan menduga setelah vaksinasi, maka terjadi replikasi (memperbanyak diri) virus campak didalam tubuh bayi pada minggu pertama atau minggu kedua setelah vaksinasi, dan hal ini akan menyebabkan timbulnya demam pada beberapa orang bayi.
Sebelumnya, kita juga tidak tahu apakah faktor usia bayi saat mendapatkan vaksinasi yang mengandung komponen vaksin campak akan menimbulkan demam dan kejang    

Jenis vaksin apa saja yang mengandung komponen vaksin campak atau measles ?
Nama dan jenis vaksin ini bisa kita baca di http://selukbelukvaksin.com/kelompok-vaksin-measles-mumps-rubella-vaksin-rubella/

Beberapa orang tua menunda pemberian vaksinasi berdasarkan pemikiran yang sebetulnya tidak benar bahwa "terlalu banyak vaksin" yang telah atau akan diberikan kepada bayi, sehingga membuat sistim pertahanan tubuh bayi menjadi kewalahan mengatasi semua beban imunisasi ini, kata Dr. Paul Offit, Kepala Divisi Penyakit Infeksi di Rumah Sakit Anak Philadelphia.  

Pemikiran orang tua ini tidak benar, Menurut Dr. Paul Offit, sistim pertahanan tubuh bayi sanggup menangani tantangan kesehatan tersebut (misalnya bayi akan mendapat paparan dari kuman dan virus yang beredar didalam lingkungan hidup kita) sejak menit pertama bayi dilahirkan. Anak yang tidak menerima perlindungan dengan imunisasi tepat waktunya akan meningkatkan bahaya dan resiko terkena infeksi dan menderita penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi yang biasanya terjadi pada saat mereka belum diberikan imunisasi.

Penelitian baru ini menganalisa informasi dari 840,348 orang bayi berusia 12 - 23 bulan, yang telah menerima vaksinasi yang mengandung komponen vaksin campak (misalnya MR, MMR atau MMRV) .
Maka bayi yang berusia 16 - 23 bulan adalah 6.5 kali lebih besar kemunginan mengalami demam kejang, yang tejadi dalam waktu 7 hingga 10 hari pasca vaksinasi. Atau bisa dikatakan bahwa akan terjadi 9.5 kasus demam kejang per 10,000 bayi yang divaksinasi dalam jangka waktu 7 hingga 10 hari pasca vaksinasi tersebut.

Sedangkan bayi yang menerima vaksin yang sama adalah lebih kecil kemungkinan terjadinya demam kejang dalam jangka waktu 7 - 10 hari pasca vaksinasi karena tindakan vaksinasi dilakukan sesuai dengan jadwal waktu yang direkomendasikan sesuai umur bayi tersebut, yaitu antara 12 - 15 bulan, bila dibandingkan dengan bayi berusia lebih tua yang terlambat mendapatkan dosis pertama vaksin campak, seperti yang diungkapkan dalam penelitian retrospektif ini.  

Sebagai pembanding saja, untuk bayi berusia 12 - 15 bulan mendapatkan dosis pertama vaksin campak, maka resiko terjadinya demam kejang adalah 3.4 kali kemungkinan terjadinya dalam waktu observasi 7 hingga 10 hari pasca vaksinasi. Atau sekitar 4 kasus demam kejang per 10,000 bayi yang divaksinasi.

Para peneliti dalam penelitian ini juga tidak yakin mengapa resiko demam kejang setelah vaksin campak adalah lebih besar pada bayi yang lebih tua daripada usia rekomendasi vaksinasi, Mungkin saja, bayi berusia 16 - 23 bulan ini mempunyai reaksi imunologi yang lebih hebat terhadap antigen vaksin campak dan mengakibatkan terjadinya demam kejang pada bayi kelompok usia tersebut.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah berbahaya bila terjadi demam kejang pada bayi pasca imunisasi vaksin yang mengandng komponen vaksin campak ?
Para penelitian menekankan bahwa resiko anak mengalami demam kejang yang sampai harus mendapatkan perawatan medis, yang terjadi pada beberapa minggu pasca imunisasi vaksin campak adalah sangat kecil, yaitu kurang dari 1 kasus per 1,000 dosis vaksin. Sedangkan resiko terjadi demam kejang karena infeksi campak alamiah (natural infection) adalah 7 kali lebih besar daripada yang pasca imunisasi.  


Kesimpulan : 

  • Rupanya faktor usia bayi  waktu imunisasi memegang peranan terjadinya demam kejang dalam waktu antara 7 - 10 hari pasca vaksinasi campak

  • Kebiasaan menunda usia vaksinasi MR, MMR atau MMRV bayi akan meningkatkan resiko terjadinya demam kejang pasca imunisasi 




Mengulur waktu imunisasi MMR akan meningkatkan resiko demam kejang bagi bayi Anda !

Source : http://www.medscape.com/viewarticle/812550

 

Vaccine Saves Lives !


Wednesday, October 9, 2013

Berita Vaksin - Hubungan Anak Autisme dan Gangguan Pola Tidur

Berita Vaksin - Hubungan Anak Autisme dan Gangguan Pola Tidur


Ternyata banyak sekali hal tak terduga yang bisa kita dapatkan dalam perkembangan bayi atau anak yang menderita ASD (Autism Spectrum Disorder) selama proses perkembangan dan pertumbuhan mereka menuju masa remaja.
Dan temuan ini banyak sekali membantu para ilmuwan dan Orang Tua untuk mengantisipasi kelaianan ini, bahka mungkin dengan intervensi kedokteran yang tepat pada usia dini, bisa membantu mengurangi dan meringankan gejalah ASD pada bayi dan anak anak tersebut.

Berikut ini adalah hasil penelitian tentang gangguan pola tidur (durasi tidur dan frekuensi terbangun sewaktu tidur malam) pada bayi dan anak yang mempunyai kecenderungan atau tendensi menderita gangguan ASD (Autism Spectrum Disorder).

Gejalah gangguan pola tidur seringkali terjadi pada anak anak hingga remaja yang menderita autisme, demikian diungkapkan baru baru ini dalam suatu penelitian.

Suatu penelitian kohort anak anak berskala besar dilakukan di Inggris memperlihatkan bahwa anak anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), durasi tidur mereka berkurang sekitar 17 hingga 43 menit lama tidurnya setiap malam (sejak mereka berusia 30 bulan dan berlanjut hingga berusia 11 tahun), jika  dibandingkan dengan teman teman mereka yang tidak menderita ASD.
Mereka ini juga lebih banyak mengalami terbangun sewaktu tidur, minimal 2 kali terbangun sepanjang malam.     
"ini adalah penelitian longitudinal pertama yang menyangkut berkurangnya durasi tidur dan jumlah frekuensi terbangun sewaktu tidur malam pada anak anak, dengan mengumpulkan data prospektif untuk membuat diagnosa ASD, bahkan gangguan pola tidur (durasi tidur dan frekuensi terbangun sewaktu tidur malam) seringkali dilaporkan oleh para Orang Tua jauh sebelum bayi atau anak mereka didiagnosa sebagai penderita gangguan ASD" demikian tulis Dr.Joanna S. Humphreys, MBChB dan kawan kawan, dari Rumah Sakit Anak di Toronto, Canada.    

Jadi dengan kata lain, kita telah bisa mendeteksi dan "meramalkan" bahwa bayi atau anak tersebut akan menderita gangguan ASD dimasa pertumbuhannya nanti dengan melihat adanya gangguan pola tidur (durasi atau lama tidur setiap malam dan jumlah frekuensi terbangun sewaktu tidur malam). Sehingga diharapkan dengan memperbaiki dan menghilangkan gangguan pola tidur bayi dan anak ini, maka akan bisa mengurangi jumlah bayi dan anak penderita ASD dimasa depan atau meringankan gejalah ASD pada bayi dan anak tersebut.  

"Gangguan pola tidur ini adalah penting sebagai tanda bagi kelompok anak ini yang mungkin ...akan berkaitan dengan bertambahnya gejalah autisme, dan mempunyai potensi untuk bisa diobati dengan program koreksi tingkah laku dan atau dengan intervensi pengobatan farmakologis dengan obat-obatan seperti misalnya obat melatonin" tambaha salah satu staff penelitian tersebut.


Pentingnya Penilaian Gangguan Pola Tidur Sedini Mungkin
  
Anak dengan ASD juga mengalami lebih banyak frekuensi terbangun sewaktu tidur malam, oleh para ahli dikelompokkan sebagai "terbangun lebih dua kali semalam" sejak mereka berusia 30 bulan dan seterusnya.

Pada saat berusia 30 bulan, maka sekitar 12.5% dari kelompok bayi ASD akan terbangun lebih dari dua kali diwaktu tidur malam, dibandingkan dengan hanya 5% bayi yang normal.
Bahkan perbedaan ini semakin menyolok pada saat mereka telah mencapai usia 81 bulan (sekitar usia 7 tahun), yaitu sebanyak 10.9% bayi ASD berbanding dengan 0.5% bayi normal. 

Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan pentingnya menilai pola gangguan tidur sedini mungkin pada bayi dengan gangguan ASD, untuk memberikan dukungan dan garis panduan kepada Orang Tua, untuk mengantisipasi terjadinya gangguan ASD pada bayi dan anak mereka, dan mempertimbangkan pemakaian melatonin untuk mengatasi gangguan pola tidur ini. Demikian penjelasan para dokter ahli penelitian ini.

Para ahli ini juga menambahkan bahwa adanya hubungan erat yang nyata antara berkurangnya durasi waktu tidur dengan berkurangnya pembentukan sel neuron saraf diotak.
"sehingga jika teori ini terbukti benar adanya, maka kelompok bayi dengan ASD akan memperoleh manfaat perbaikan dengan menambah jumlah waktu durasi tidur mereka" tulis mereka dalam hasil penelitian diatas.   

Banyak bukti nyata yang mendukung bahwa dengan pola tidur yang baik, akan membantu tubuh melakukan regenerasi penggantian dan rejuvenalisasi (peremajaan) sel sel tubuh yang telah rusak dan membentuk sel tubuh yang baru, sehingga tidur ini sangat penting sekali, terutama tidur yang nyenyak dan cukup lama, yaitu durasi waktu yang cukup dengan kualitas tidur yang baik  
  
Catatan :
Hasil penelitian ini telah diterbitkan secara online oleh the Archives of Disease in Childhood. Septeber 30, 2013
 




Vaccine Saves Lives !